Jumat, 12 Maret 2010

Struktur DJ Mixer

Sebuah DJ mixer masa kini secara umum mempunyai dua atau lebih kanal masukan untuk memasukkan sumber audio dan sumber audio mixing lainnya. Agar dapat mengakomodasi input dari Turntable atau phonograf maka harus ada sirkuit penguat dengan standar ekualisasi RIAA (RIAA equalization) dan masukan tingkat tinggi (high level input) untuk memasukkan pemutar CD dan sumber audio lain yang mempunyai high level input. Lebih spesifik, biasanya letak masing-masing control channel diatur secara vertikal agar seorang DJ dapat dengan mudah melakukan pertunjukkannya. Dibawah pemilih masukan (input selector) ada sebuah pengatur gain, digunakan untuk menyamakan level sinyal pada masing-masing channel yang masuk ke mixer.Kemudian masing masing channel input dimasukkan ke tahap selanjutnya yaitu pengaturan nada pada sirkuit equalizer.Ketika akan melakukan transisi lagu, seorang DJ akan menyamakan hentakan bass agar sinkron dan mengurangi level bass pada salah satu level channel,sehingga mengurangi tabrakan bunyi hentakan bass yang mengganggu.

Crossfader

Salah satu bagian yang paling penting dari DJ mixer adalah sirkuit Crossfader yang menjadi jantung sebuah DJ Mixer. Tanpa Crossfader, melakukan transisi lagu dengan menggunakan dua rotary knob akan sangat susah. Pada awalnya sirkuit crossfader hanyalah dua penggeser fader audio pengatur gain dimana sinyal audio langsung melalui crossfader, namun dengan kebiasaan penggunaan yang tidak wajar seperti untuk scratching pada DJ hip-hop dimana crossfader berperan sangat penting karena digerakkan dengan kecepatan tinggi untuk menciptakan hentakan bass dan clap yang mendasari aliran musik tersebut.Seiring berkembangnya teknologi maka para ahli menemukan apa yang disebut sirkuit penguat dengan pengaturan tegangan (Voltage Controlled Amplifier, VCA) dimana audio fader tidak mengatur gain input sumber audio tadi secara langsung, namun dengan tegangan DC,sirkuit terintegrasi (IC)dengan prinsip VCA tersebut gain sumber audio akan dapat diatur secara halus dan respon dari crossfader dapat diatur sedemikian rupa.Referensi dari Rane, salah satu pembuat DJ mixer menyatakan secara umum dapat dibuat menjadi tiga macam setting yaitu full, cut dan smooth. Jenis pengaturan Smooth dan Full akan sangat membantu kerja dari DJ klub, sedangkan pada pengaturan jenis cut,sangat dominan dipakai oleh DJ hip-hop dalam teknik scratching. Selain Crossfader berbasis VCA, juga ada yang berbasis sirkuit optoelektronik dan juga dengan type crossfader magnetik.

Pengatur Nada

Serupa dengan Audio Mixer konvensional,suatu pengatur nada mengatur nada pada tiap kanal yang ada. pengaturan yang sangat umum adalah pada pengaturan level nada rendah (Bass, Low), nada menengah (Midrange,Midle) dan nada tinggi (Treble,High). Lebih khususnya DJ mixer dilengkapi dengan saklar pembunuh (Kill Switch) untuk masing masing dari ketiga cakupan nada yang diatur dan disini menjadi kelengkapan efek standar pada DJ mixer.Tentunya reaksi yang sama tidak akan sama dengan memutar ketiga potensiometer untuk ketiga nada yang diatur tersebut.

Cue selector

Cueing adalah istilah DJ untuk menentukan letak posisi lagu yang akan dimainkan tanpa mengganggu lagu yang sekarang diputar dan didengar oleh pendengar. Prinsipnya adalah pendengaran sebelum dipudarkan (Pre-fade Listening, PFL). Sirkuit Cue adalah hal mutlak yang harus ada pada DJ mixer.Type Cue bermacam macam, apakah mendengar pada salah satu channel sebelum atau sesudah proses mix, sehingga DJ bisa membandingkan hasil mixing sebelum lagu yang didengar oleh pendengar.Dan Juga, sirkuit headphone dengan sirkuit penguat tersendiri adalah bagian penting dari Cue Selector.

Auto Start switch

Berhubungan dengan crossfader, suatu sirkuit bisa diatur agar ketika posisi crossfader pada posisi ekstrim apakah itu kekiri atau kekanan (biasanya posisi crossfader diletakkan melintang, sedangkan channel fader diposisi tegak lurus) suatu sirkuit dengan pemicu Autostart akan secara otomatis memutar player yang telah disetting pada posisi Autostart,namun dalam hal ini CD player yang ada juga harus mendukung fitur ini.

Pemicu Lampu (Lighting trigger)

Pertunjukan DJ akan lebih semarak dengan pengaturan Lampu-lampu (Lighting) yang terpasang di panggung. Dengan pemicu Lampu-lampu ini maka kedip lighting akan mengikuti irama lagu yang sedang dimainkan.Sound to Light adalah istilah yang sering dipakai dalam teknik ini.

Auxiliary Send dan Return

Dengan masukan dan keluaran ini seorang DJ bisa menghubungkan sebuah sampler, prosesor efek suara, MIDI Controller untuk menambah semarak dengan bunyi-bunyi yang menarik seperti flanger,waw-waw,reverb dan sebagainya.

Main Output dan Booth Monitor Output

Dalam setting sebuah klub seorang DJ sangat membutuhkan Booth Monitor yang terletak cukup dekat dengannya.sehingga DJ bisa mendengar secara cermat musik yang dimainkan. Jalur output untuk Booth Monitor dan main output akan dikuatkan dengan amplifier yang berbeda.Selain itu keluaran booth monitor bisa dipakai sebagai input untuk perekaman suara hasil mixing jika keluaran khusus untuk perekaman tidak ada.

Peak Meter

Dengan Peak meter ini, DJ bisa mengawasi seberapa besar keluaran level sinyal output yang direpresentasikan oleh VU display baik berupa Jarum meter analog maupun LED Display.Akan sangat menarik jika Peak meter terdapat sirkuit penahan puncak (Peak hold level) sehingga lampu LED pada posisi puncak akan menyala beberapa saat bersamaan dengan hentakan bass yang paling keras.

Penguat Depan Mikropon

Meskipun DJ mixer akan lebih fokus pada kualitas mixing lagu, namun paling tidak harus ada satu kanal penguat depan mikropon yang bisa dipakai oleh DJ untuk membuat perkenalan ketika akan memutar lagu baru. Sirkuit penguat depan ini bisa dibuat bekerja secara bicara lebih (Talk Over), dimana jika mikropon diaktifkan maka secara otomatis akan mengurangi level musik. tentunya, kontrol yang harus ada yakni pengatur nada (Tone Control) untuk mengatur nada Bass, Midrange, dan Treble. Lebih sederhana lagi, hanya disertakan pengaturan gain dan pengaturan nada berupa setelan Basah Kering (Wet-dry) saja untuk menyesuaikan suara yang dihasilkan.

Analog DJ Mixer Vs. Digital DJ mixer

Penjelasan diatas akan lebih bias kepada DJ Mixer analog. Perkembangan Dunia digital juga diaplikasikan pada DJ Mixer.pada DJ Mixer digital terdapat Analog to Digital Converter yang mengubah sampling input analog menjadi sinyal digital. sampling frekuensi 96 kbps/44 Khz sudah cukup memadai untuk menghasilkan suara setara CD Audio. Dengan A/D converter tersebut, pengubah efek seperti LFO, Flanger, Reverb, dsb dilakukan pada tahap digital.Dengan DJ mixer digital seorang DJ akan dengan sangat mudah melakukan sinkronisasi hentakan (Beatmatching) dua lagu secara cepat dan akurat berdasarkan hitungan denyutan per menit(Beat per minutes,BPM atau tempo lagu yang dimainkan.Sinkronisasi dengan Player atau komputer biasanya dihubungkan dengan hubungan serial atau USB.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/DJ_Mixer

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar